Jumat, 10 Mei 2013 - 0 komentar

Hey....


A story, a letter and another side of me….
This is for her, on her special moment…
            
Entah sejak kapan tepatnya gadis minang manis nan ayu pemilik senyuman indah itu berhasil memikatku. Tapi yang jelas setiap kali ku berpapasan dengannya di koridor kelas di kampus, aku merasa gugup, ada sesuatu yang berbeda ketika ku berusaha tuk sekedar menatap matanya saja. Klise mungkin, tapi perasaan itu muncul tak cuma sekali, tapi menjadi suatu rutinitas. Menuntaskan rasa apa yang sebenarnya ku alami, ku mencoba mencari tahu tentang dia, mencoba berusaha mengenal siapa dia, bagaimana dia dan mengumpulkan keberanian untuk sekedar melihat dalam kedua bola matanya. Waktu itu ku teringat, ketika pertama kalinya aku berusaha mencari tahu tentangnya, aku menemukan sebuah tembok besar, atau mungkin sebuah arus bahkan ombak menggulung yang berlawanan arah, berusaha menerjangku yang baru saja ingin berjalan ke arahnya. Dia telah berdua.
            
Fakta itu membuat ku yang baru berjalan setapak terpaksa memundurkan langkah kaki yang terlajur terlangkahkan itu. Aku terpaku ke dalam sebuah realita yang tak ku inginkan. Aku diam di suatu titik yang bahkan belum sempat digerakan menjadi garis kecil. Seperti seekor elang yang dikurung didalam sebuah sangkar dengan ayam-ayam yang berkeliaran disekitarnya, itulah aku ketika melihat dia di dalam gedung yang sama setiap hari. Sang elang yang seharusnya gagah, menerkam dan mencabik ayam-ayam itu hanya termangu mengetahui dirinya tak berdaya di sebuah sangkar. Perumpamaannya bukan aku sebagai elang dan dia sebagai ayam, tapi ini tentang daya aku, daya yang hilang entah kemana terdampar dalam sebuah kelesuan, karena berdampingan tapi tak terjangkau.
            
Seakan sebuah terpaan angin segar menghempas di tubuhku yang sedang berdiri termangu di sebuah pematang sawah yang terhampar, kabar dia telah sendiri membuat aku sedikit menyunggingkan senyum. Setelah memberikan waktu cukup lama kepada diri sendiri untuk meyakinkan diri dan membiarkan dia memudarkan rasa pada cintanya terdahulu. Aku datang dengan keikhlasan, tulus dengan jutaan kasih sayang dibarengi ribuan harapan menggantung dipelupuk mata. Aku tak menghampirinya dengan tumpukan emas berlian atau kesombongan fisik, karena memang tak pantas, tak layak dan tak patut.
            
Aku tak pernah berusaha menjadi orang lain ketika berjalan pelan ke arahnya, bergegas dan hingga menuju suatu dimensi yang begitu erat dengannya. Aku tak perlu berpura pura untuk menjadi seorang yang dia inginkan, atau memakai sebuah topeng mulia untuk meyakinkan ia. Dia, ya dia menjadikan aku seorang yang begitu beruntung menjadi bagian hidupnya, mengisi segala ruang di rongga rongga pikiran dan hatinya bahkan ketika dia belum aku genggam sepenuhnya, menjadikan ragaku terangkat sedemikan rupa, menyenangkan tapi tak perlu terbuai, kepayang tetapi tetap berdasar.
            
Pribadi unik dan menyenangkan, tak sekalipun menjemukanku, aku begitu bermakna ketika hanya sekedar duduk di sebuah tempat makan sederhana di sebuah jalanan sibuk yang dipadati lalu lalangnya kendaraan. Bahkan bising tak tersentuh sekalipun dikegembiraan ketika bercengkrama dengannya berdua dilatari suara merdu sang hujan. Sore itu perbincangan yang begitu gemuruh dipenuhi tawanya yang renyah, sekali lagi secara sederhana aku merasa euphoria setiap kali derau tawanya meledak dalam candaan yang aku buat.
            
Tak ada yang sempurna, begitupun dia, tapi dalam setiap sudut pikiran dan nuraniku, aku telah memilih, memilih untuk berjuang didalam ketidakmudahan. Melewati jalur beranakan ranjau, berusaha menghancurkan tembok tinggi menjulang buatannya, dan tetap berjalan ke depan meskipun di kejauhan jelas terlihat ujung di jalan yang aku laluin. Tak pernah ku sesali ketika jatuh bangun dalam meraih tangannya, dan tak sedikitpun ada perasaan kecewa setiap kali langkah kaki aku terhenti atau bahkan tergelincir oleh batu kerikil yang kita buat. Karena memang pantas, memang layak dan memang seharusnya dia diperjuangkan seperti itu. Ya, sangat layak.
            
Aku sempat menyerah dan berusaha berdamai dengn realita, berusaha berdampingan dengan kegagalan, aku berhenti melangkahkan kaki yang terasa begitu berat untuk dihentikan, yang meronta ketika dimundurkan. Tak ada kebencian sama sekali, karena memang sepatutnya dia mendapatkan yang lebih dari aku, dan memang mungkin bukan aku yang pantas menggenggam tangannya, mengarahkan ke jalan yang ia mau. Karena memang mungkin bukan aku yang memeluknya ketika setumpuk masalah menghampirinya, memberikan rasa nyaman disaat kegundahaan menerpanya, menegakan dahunya ketika rasa ragu bermain di kalbunya. Ya, mungkin bukan aku.

Hari-hariku tak seindah ketika setiap hari bersamanya. Setiap moment yang kita buat, membuat kita terjebak dalam kesusahan bergerak. Membuat seakan beda ketika rutinitas bersama terpaksa terhenti, demi kebaikan bersama. Senyumnya yang begitu khas, kadang memainkan khayalan dan ingatan ketika berdialog ringan tentang hal-hal yang ia suka. Aku terhanyut kedalam arus kecil bernama cinta. Tenggelam dalam pusaran kecil bernama rindu, dan terpaku kedalam tepi kegundahan.
            
Kini, entah keajaiban atau apa namanya, aku berhasil menggenggam tangannya, bukan hanya itu, tangannya dengan lembut menggenggam juga tanganku, untuk bersama sama berjalan ke suatu arah yang tak pernah kita tahu akhirnya. Kini tak perlu ada kegalauan diantara kita, aku bahagia dalam keunikan dirinya, aku bersenang senang dalam permasalah ringan kita dan begitu menikmati ketika berdampingan dengannya.
          
Sebuah anugerah yang diberikan Sang Maha Cinta kepadaku, menghadirkan dia di serba kekurangannya diriku. Menjadikannya pelipur lara ketika ujian dariNya datang menemuiku, menjadikannya pendamping di saat nikmatNya mendatangiku. Dengan segala kekuranganku dan lumuran dosa yang ku punya, Tuhan memberikan seorang kekasih pengertian, baik, soleha, pintar, cantik dan begitu perhatian bernama Reisha Adriana. Entah bagaimana akhirnya kita, setidaknya kebahagian yang kita lalui kali ini adalah salah satu bagian hidup terindahku. Terima kasih sayang untuk semuanya, selamat ulang tahun dan semoga hamparan kebahagian selalu menyertaimu.



           


0 komentar:

Posting Komentar