A story, a
letter and another side of me….
This is for
her, on her special moment…
Entah sejak kapan tepatnya gadis
minang manis nan ayu pemilik senyuman indah itu berhasil memikatku. Tapi yang
jelas setiap kali ku berpapasan dengannya di koridor kelas di kampus, aku merasa
gugup, ada sesuatu yang berbeda ketika ku berusaha tuk sekedar menatap matanya
saja. Klise mungkin, tapi perasaan itu muncul tak cuma sekali, tapi menjadi
suatu rutinitas. Menuntaskan rasa apa yang sebenarnya ku alami, ku mencoba mencari
tahu tentang dia, mencoba berusaha mengenal siapa dia, bagaimana dia dan
mengumpulkan keberanian untuk sekedar melihat dalam kedua bola matanya. Waktu
itu ku teringat, ketika pertama kalinya aku berusaha mencari tahu tentangnya, aku
menemukan sebuah tembok besar, atau mungkin sebuah arus bahkan ombak menggulung
yang berlawanan arah, berusaha menerjangku yang baru saja ingin berjalan ke
arahnya. Dia telah berdua.
Fakta itu membuat ku yang baru
berjalan setapak terpaksa memundurkan langkah kaki yang terlajur terlangkahkan itu.
Aku terpaku ke dalam sebuah realita yang tak ku inginkan. Aku diam di suatu
titik yang bahkan belum sempat digerakan menjadi garis kecil. Seperti seekor
elang yang dikurung didalam sebuah sangkar dengan ayam-ayam yang berkeliaran disekitarnya,
itulah aku ketika melihat dia di dalam gedung yang sama setiap hari. Sang elang
yang seharusnya gagah, menerkam dan mencabik ayam-ayam itu hanya termangu
mengetahui dirinya tak berdaya di sebuah sangkar. Perumpamaannya bukan aku
sebagai elang dan dia sebagai ayam, tapi ini tentang daya aku, daya yang hilang
entah kemana terdampar dalam sebuah kelesuan, karena berdampingan tapi tak
terjangkau.
Seakan sebuah terpaan angin segar
menghempas di tubuhku yang sedang berdiri termangu di sebuah pematang sawah
yang terhampar, kabar dia telah sendiri membuat aku sedikit menyunggingkan
senyum. Setelah memberikan waktu cukup lama kepada diri sendiri untuk
meyakinkan diri dan membiarkan dia memudarkan rasa pada cintanya terdahulu. Aku
datang dengan keikhlasan, tulus dengan jutaan kasih sayang dibarengi ribuan
harapan menggantung dipelupuk mata. Aku tak menghampirinya dengan tumpukan emas
berlian atau kesombongan fisik, karena memang tak pantas, tak layak dan tak
patut.
Aku tak pernah berusaha menjadi
orang lain ketika berjalan pelan ke arahnya, bergegas dan hingga menuju suatu
dimensi yang begitu erat dengannya. Aku tak perlu berpura pura untuk menjadi
seorang yang dia inginkan, atau memakai sebuah topeng mulia untuk meyakinkan
ia. Dia, ya dia menjadikan aku seorang yang begitu beruntung menjadi bagian
hidupnya, mengisi segala ruang di rongga rongga pikiran dan hatinya bahkan
ketika dia belum aku genggam sepenuhnya, menjadikan ragaku terangkat sedemikan
rupa, menyenangkan tapi tak perlu terbuai, kepayang tetapi tetap berdasar.
Pribadi unik dan menyenangkan, tak
sekalipun menjemukanku, aku begitu bermakna ketika hanya sekedar duduk di
sebuah tempat makan sederhana di sebuah jalanan sibuk yang dipadati lalu
lalangnya kendaraan. Bahkan bising tak tersentuh sekalipun dikegembiraan ketika
bercengkrama dengannya berdua dilatari suara merdu sang hujan. Sore itu
perbincangan yang begitu gemuruh dipenuhi tawanya yang renyah, sekali lagi
secara sederhana aku merasa euphoria setiap kali derau tawanya meledak dalam
candaan yang aku buat.
Tak ada yang sempurna, begitupun
dia, tapi dalam setiap sudut pikiran dan nuraniku, aku telah memilih, memilih
untuk berjuang didalam ketidakmudahan. Melewati jalur beranakan ranjau,
berusaha menghancurkan tembok tinggi menjulang buatannya, dan tetap berjalan ke
depan meskipun di kejauhan jelas terlihat ujung di jalan yang aku laluin. Tak
pernah ku sesali ketika jatuh bangun dalam meraih tangannya, dan tak sedikitpun
ada perasaan kecewa setiap kali langkah kaki aku terhenti atau bahkan
tergelincir oleh batu kerikil yang kita buat. Karena memang pantas, memang
layak dan memang seharusnya dia diperjuangkan seperti itu. Ya, sangat layak.
Aku sempat menyerah dan berusaha
berdamai dengn realita, berusaha berdampingan dengan kegagalan, aku berhenti
melangkahkan kaki yang terasa begitu berat untuk dihentikan, yang meronta
ketika dimundurkan. Tak ada kebencian sama sekali, karena memang sepatutnya dia
mendapatkan yang lebih dari aku, dan memang mungkin bukan aku yang pantas
menggenggam tangannya, mengarahkan ke jalan yang ia mau. Karena memang mungkin
bukan aku yang memeluknya ketika setumpuk masalah menghampirinya, memberikan
rasa nyaman disaat kegundahaan menerpanya, menegakan
dahunya ketika rasa ragu bermain di kalbunya. Ya, mungkin bukan aku.
Hari-hariku tak seindah ketika setiap hari bersamanya. Setiap moment yang kita buat, membuat kita terjebak dalam kesusahan bergerak. Membuat seakan beda ketika rutinitas bersama terpaksa terhenti, demi kebaikan bersama. Senyumnya yang begitu khas, kadang memainkan khayalan dan ingatan ketika berdialog ringan tentang hal-hal yang ia suka. Aku terhanyut kedalam arus kecil bernama cinta. Tenggelam dalam pusaran kecil bernama rindu, dan terpaku kedalam tepi kegundahan.
Kini, entah keajaiban atau apa
namanya, aku berhasil menggenggam tangannya, bukan hanya itu, tangannya dengan
lembut menggenggam juga tanganku, untuk bersama sama berjalan ke suatu arah
yang tak pernah kita tahu akhirnya. Kini tak perlu ada kegalauan diantara kita,
aku bahagia dalam keunikan dirinya, aku bersenang senang dalam permasalah
ringan kita dan begitu menikmati ketika berdampingan dengannya.
Sebuah anugerah yang diberikan Sang
Maha Cinta kepadaku, menghadirkan dia di serba kekurangannya diriku.
Menjadikannya pelipur lara ketika ujian dariNya datang menemuiku, menjadikannya
pendamping di saat nikmatNya mendatangiku. Dengan segala kekuranganku dan
lumuran dosa yang ku punya, Tuhan memberikan seorang kekasih pengertian, baik,
soleha, pintar, cantik dan begitu perhatian bernama Reisha Adriana. Entah
bagaimana akhirnya kita, setidaknya kebahagian yang kita lalui kali ini adalah
salah satu bagian hidup terindahku. Terima kasih sayang untuk semuanya, selamat
ulang tahun dan semoga hamparan kebahagian selalu menyertaimu.



0 komentar:
Posting Komentar